| Prahara Seksi Konsumsi |
Sungguh luar biasa persiapan panitia untuk acara Jambore 2008! Dengan persiapan panitia yang – menurut saya – terkesan ala kadarnya, ternyata acara jambore ini juga dapat berakhir dengan cukup sukses! Saya ingin mencoba memberikan evaluasi acara Jambore 2008 melalui sudut pandang saya sebagai panitia seksi konsumsi.
Ketika hari pertama tiba, kami (panitia dan peserta dan para guru) semua dipersiapkan di lapangan, lalu kita segera menuju bus dan meluncur ke Gunung Puntang. Setelah 2 jam perjalanan yang melelahkan, kami sampai di Gunung Puntang. Sie konsumsi segera membereskan barang-barang di tenda panitia, lalu bergegas memulai acara memasak. Menu pertama sore hari itu adalah mie, bakso, dan nasi. Dimulailah kekacauan beberapa saat kemudian.
Walaupun menjabat sebagai sie konsumsi, tidak ada satu pun orang yang benar-benar bisa memasak. Maka kami memulai dari nol menjadi harus bisa memasak nasi dengan dandang, merebus mie dan bakso untuk 80 orang panitia. Mungkin seluruh sie konsumsi bisa memasak mie untuk 1 orang, tetapi untuk 80 orang? Itu benar-benar sebuah pengalaman yang baru, menarik, dan penuh kekacauan.
Ketika memasak nasi, kami menggunakan dandang berkapasitas 10 liter. Sesuai perintah Bu Ani, kami mengisi beras di panci, kemudian memberi air dan memasak sampai nasi itu menjadi setengah matang. Sialnya, kami tidak tahu seperti apa tampaknya nasi yang disebut setengah matang. Jadi ketika nasi belum matang, kami memindahkannya ke dandang. Lebih sialnya lagi, seseorang-yang-namanya-tidak-ingin-saya-sebut tiba-tiba datang dan memberitahu kita bahwa dandang harus diisi air setinggi batas saringan nasinya dan kami terpaksa menuruti.
Setelah menunggu cukup lama (masa sampai 1 jam??), nasi di dandang itu tak kunjung matang. Kami bingung, dan waktu kami bingung, datanglah seseorang-yang-namanya-tidak-ingin-saya-sebut-yang-lain dan ia menyadari ada yang salah dengan cara kami memasak nasi. Ternyata memang air di dandang tidak boleh setinggi batas, hanya perlu setengah tinggi batasnya saja. Ia lalu membuat dua bolongan pada nasi, dengan teori bahwa dengan membuat 2 bolongan, nasi tidak menghambat uap yang naik sehingga bisa matang. Kami hanya bisa mengangguk-angguk saja.
Alhasil, air di bawah saringan itu meluap sampai menutupi seluruh nasi sehingga nasi itu pun kacau balau setelah ditunggu selama ½ jam berikutnya. Ketika Bu Ani datang, sudah tentu terdengar “Ya ampun! Ini siapa yang giniin?” dengan nada khas Bu Ani. Duh Bu, seandainya Ibu datang lebih cepat. Tetapi dengan segera Bu Ani menyuruh kami menyiapkan panci baru dan memindahkan nasi di dandang itu ke panci lain sementara air di dandang dikurangi. Lalu nasi itu kembali dimasak. Luar biasa! Nasi yang begitu hancur dan setengah matang tadinya bisa setelah dimasak menjadi terhitung bagus. Maka dengan segala keberuntungan sie konsumsi, terbuatlah nasi sebanyak 15 liter untuk makan malam panitia.
Hari-hari berikutnya pun dijalani dengan penuh kekacauan yang serupa, namun kami pun mengakhiri acara jambore itu dengan selamat sampai di CC. Memang luar biasa acara jambore 2008 ini! Walaupun terjadi banyak kekacauan karena hujan, dengan segala persiapan
dadakan panitia bisa mengatur agar acara tetap berjalan. Saya juga sangat terkesan karena dengan segala ke-soktahu-an dan kekacauan yang terjadi, sie konsumsi bisa menyelesaikan tugasnya dengan cukup baik. Selamat! Lain kali siapkan dengan lebih baik segala tugas-tugasnya ya, koordinator!
Pengalaman yang saya dapat dari menjabat sebagai sie konsumsi ini pun tidak tanggung-tanggung. Saya belajar cara memasak nasi dengan dandang, menggoreng kornet dan telur, dan pengalaman masak-memasak lainnya yang seandainya saya tidak menjadi sie konsumsi mungkin saya tidak akan pernah lakukan di rumah.
Akhir kata saya hanya ingin mengucapkan “Bravo Jambore 2008! Bravo Seksi Konsumsi!” Pengalaman saya kali ini benar-benar luar biasa!
———————ooooooo———————
Recent Comments